Kamis, 12 Juni 2014

KANDUNGAN ASAM PITAT PADA JAGUNG SEBAGAI PAKAN DAN CARA MENURUNKAN ZAT ANTINUTRISI

PENDAHULUAN

Tiga puluh tahun yang lalu, penggunaan jagung umumnya masih didominasi untuk pangan, baik sebagai pengganti beras di daerah tertentu maupun sebagai pangan tambahan. Dengan berkembangnya industri unggas pada awal tahun 1970an, maka jagung mulai dimanfaatkan sebagai sumber energy untuk pakan unggas modern. Permintaan jagung untuk pakan terus meningkat sejalan dengan berkembangnya industri pakan unggas. Saat ini, sebagian besar produksi jagung digunakan untuk pakan dan volume penggunaannya untuk pangan cenderung menurun. Awalnya, jagung jenis lokal banyak ditanam oleh petani dan biji jagung yang dihasilkan relatif kecil, tetapi mempunyai kandungan protein yang relatif tinggi.
Berkembangnya teknologi jagung hibrida dalam kurun waktu 10 tahun terakhir mendorong sebagian petani untuk menanam jagung hibrida, sehingga jagung yang digunakan untuk pakan adalah jenis hibrida. Jagung hibrida mempunyai ukuran biji yang relatif besar dan mirip dengan jagung impor yang umumnya juga dari jenis hibrida. Jagung lokal umumnya mempunyai warna yang lebih cerah dibanding jagung impor, sehingga lebih disukai untuk bahan baku pakan ayam petelur. Perkembangan genetik jagung juga dapat mempengaruhi nilai gizi jagung untuk pakan. Namun, di dalam jagung terdapat kandungan zat antinutrisi.
Adanya senyawa anti nutrisi dalam bahan pakan dapat menjadi pembatas dalam penggunaannya dalam ransum, karena senyawa antinutrisi ini akan menimbulkan pengaruh yang negatif terhadap pertumbuhan dan produksi tergantung dosis yang masuk ke dalam tubuh. Penggunaan bahan pakan yang mengandung antinutrisi harus diolah dulu untuk menurunkan atau menginaktifkan senyawa ini, tetapi perlu dipertimbangkan nilai ekonomis dari pengolahan ini. Beberapa senyawa dapat menghambat penyerapan mineral, seperti konsumsi serat yang berlebih, asam phytat yang terdapat dalam biji-bijian, serta asam oksalat yang terdapat dalam bayam dapat menghambat penyerapan kalsium.
PEMBAHASAN

A.    JAGUNG SEBAGAI BAHAN PAKAN

Jagung merupakan sumber energi utama pakan, terutama untuk ternak monogastrik seperti ayam, itik, puyuh, dan babi karena kandungan energi, yang dinyatakan sebagai energi termetabolis (ME), relatif tinggi dibandingbahan pakan lainnya. Dalam ransum unggas, baik ayam broiler maupun petelur, jagung menyumbang lebih dari separuh energi yang dibutuhkan ayam. Tingginya kandungan energi jagung berkaitan dengan tingginya kandungan pati (>60%) biji jagung. Di samping itu, jagung mempunyai kandungan serat kasar yang relatif rendah sehingga cocok untuk pakan ayam.
Jagung mengandung >3% lemak yang terdapat dalam lembaga biji. Lemak umumnya mempunyai kandungan energi 9 kalori/g, lebih tinggi dibanding protein atau karbohidrat yang hanya mengandung energi 4,0 kalori/g. Meskipun kandungan lemak relatif rendah, jenis asam lemak jagung berupa asam lemak tidak jenuh, terutama asam linoleat (C18:2), berguna untuk ayam petelur. Asam lemak ini dapat meningkatkan ukuran telur di samping bermanfaat dalam sintesis hormon reproduksi. Kandungan energy lemak yang tinggi mendorong peneliti untuk mengembangkan jenis jagung berlemak tinggi seperti high oil corn yang mempunyai kandungan lemak >6%. Meningkatnya kandungan lemak akan meningkatkan kandungan energi jagung, tetapi jagung jenis ini mempunyai produktivitas yang relative rendah.
Kadar protein jagung (8,5%) jauh lebih rendah dibanding kebutuhan ayam  broiler yang mencapai >22% atau ayam petelur > 17%. Sebenarnya, ayam memerlukan asam amino yang terdapat dalam protein. Karena itu, untuk menilai kandungan gizi jagung perlu memperhatikan kandungan asam aminonya. Kandungan lisin, metionin, dan triptofan jagung relative rendah sehingga untuk membuat pakan ayam perlu ditambahkan sumber protein yang tinggi seperti bungkil kedelai. Untuk melengkapi kandungan asam amino dalam ransum pakan ayam dapat ditambahkan asam amino sintetis seperti L Lisin, DL Metionin atau L Treonin.
Salah satu kelebihan jagung untuk pakan unggas, terutama ayam petelur, adalah kandungan xantofilnya yang tinggi (18 ppm) dan berguna untuk kuning telur, kulit, atau kaki berwarna lebih cerah. Hal ini tidak dijumpai pada biji-bijian lain, dedak padi, dan ubi kayu. Oleh karena itu, apabila jagung tidak digunakan untuk pakan ayam petelur tetapi menginginkan telur berwarna kuning cerah, maka perlu ditambahkan sumber xantofil lain seperti tepung daun lamtoro, corn gluten meal atau sumber xantofil murni.
Jagung juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi bagi ternak ruminansia, baik sapi maupun kambing/domba. Di beberapa negara, jagung digunakan untuk pakan sapi penggemukan. Untuk meningkatkan nilai gizinya, jagung dipanaskan dengan uap dan ditekan (roll). Teknik rolled kering juga dapat diaplikasikan tetapi hasilnya kurang memuaskan dibandingkan dengan pemenyetan cara basah dengan uap. Untuk pakan anak babi, pemberian jagung dengan cara digiling dapat menimbulkan diare sehingga dianjurkan untuk dimasak terlebih dahulu, agar kecernaannya meningkat. Pemasakan yang umum dilakukan adalah dengan cara ekstrusi menggunakan mesin ekstruder, baik cara kering maupun basah. Jagung yang dimasak dengan ekstruder akan menghasilkan produk seperti jagung berondong yang matang.

B.     ASAM PITAT

Asam pitat (C6H18O24P6) merupakan senyawa kimia yang terdiri atas inositol dan asam fosfat. Terdapat enam gugus asam fosfat yang terikat pada cincin inositol. Secara kimiawi, asam pitat disebut myo-inositol 1,2,3,4,5,6-heksakis (dihidrogen fosfat) (Reddy et al.,1982). Asam pitat adalah bentuk simpan utama dari fosfor dalam biji-bijian tanaman, terhitung sekitar 60–80% dari total fosfor. Molekul asam pitat mengandung mineral P yang tinggi, yaitu sekitar 28,8%. Dibawah kondisi ransum normal, P-asam pitat tidak tersedia untuk unggas, karena unggas miskin dengan enzim untuk menghidrolisis asam pitat.
Pitat memiliki struktur kimia yang sangat stabil. Dalam bentuk fosfat organik memilki kandungan fosfat yang tinggi. Dalam kondisi fisiologi normal asam pitat membentuk chelate dengan mineral – mineral essensial seperti kalsium, magnesium, besi dan seng. Asam pitat seringkali berikatan dengan asam-asam amino atau menghambat enzim – enzim pencernaan (Pallauf dan Rimback, 1996).
The structural identification of phytic acid
Gambar Struktur Asam Pitat
       Asam pitat (mio-inositol heksakisfosfat) merupakan zat anti gizi karena mempunyai kemampuan untuk berikatan dengan mineral yang mengakibatkan kelarutan mineral tersebut menurun, sehingga ketersediaan mineral menjadi rendah. Asam pitat  merupakan bentuk penyimpanan fosfor yang terbesar pada tanaman serealia dan leguminosa. Dalam biji pitat merupakan sumber fosforus dan inositol utama bagi tanaman, terdapat dalam bentuk garam dengan kalium,kalsium, magnesium, dan logam lain (Avery dan King, 1926). Pada kondisi alami, asam pitat akan membentuk ikatan baik dengan mineral bervalensi dua (Ca, Mg, Fe), maupun protein menjadi senyawa yang sukar larut. Hal ini menyebabkan mineral dan protein tidak dapat diserap tubuh, atau nilai cernanya rendah. Oleh karena itu, asam pitat dianggap sebagai antinutrisi pada bahan pangan.
       Kandungan asam pitat sangat banyak terdapat dalam tumbuhan, sel mikroorganisme, dan ternak. Biji – bijian tumbuhan mengandung 60 – 90% fosfor pitat dalam bentuk garam asam pitat. Pitat dalam tumbuhan berperan dalam fungsi biologis penyimpanan fosfor dan kation yang dibutuhkan untuk pertumbuhan bibit tanaman (William dan Taylor, 1985).
       Adapun sifat-sifat dari senyawa pitat adalah berperan dalam fungsi fisiologis, selama dormansi dan perkecambahan pada biji-bijian, melindungi kerusakkan oksidatif pada biji-bijian selama proses penyimpanan, menurunkan bioavaibilitas beberapa mineral, berperan sebagai antioksidan, serta dapat menurunkan nilai gizi protein karena apabila pitat berikatan dengan protein akan membentuk senyawa kompleks yang mengakibatkan protein menjadi tidak larut (Anonim, 2013).

C.    ASAM PITAT SEBAGAI ANTINUTRISI DALAM JAGUNG

       Jagung  selain mengandung senyawa yang berguna bagi tubuh, juga mengandung senyawa anti nutrisi berupa asam pitat yang dapat menghambat penyerapan mineral dalam tubuh (Onofiok dan Nnanyelugo 2006).  Unsur P yang ada di dalam jagung tidak dapat dicerna (tersedia) seluruhnya oleh ayam atau babi. Unsur P dalam jagung berada dalam bentuk pitat yang berkaitan dengan inositol dan juga mengikat mineral lain. Akibatnya, ternak tidak dapat memanfaatkan P dengan baik dan dikeluarkan bersama kotoran. Dalam proses penyerapan zat makanan, agar dapat diserap secara keseluruhan proses pemecahan makanan dalam saluran pencernaan harus berlangsung cepat. Jika tidak, maka makanan tersebut hanya lewat saja di saluran pencernaan. Dan terbuang percuma sebagai kotoran. Apabila kotoran ternak digunakan untuk pupuk atau dibuang ke daerah pertanian, dalam keadaan tertentu dapat mencemari lingkungan.
       Waktu perjalanan makanan dalam saluran pencernaan dari mulut sampai dibuang dalam bentuk kotoran berkisar hanya 2 jam. Pada ternak unggas satu jam makanan berada dalam usus halus dan melewati villi - villi usus. Dalam hal ini, enzim diyakini dapat berperan dalam mempercepat reaksi perombakan, sehingga fraksi makanan sudah dapat dirombak ke dalam bentuk yang siap diserap sebelum makanan tersebut melewat villi – villi usus halus, hal ini karena enzim memiliki fungsi dasar mempercepat reaksi biokima. Untuk mencegah terjadinya penurunan daya cerna mineral, maka perlu dilakukan cara yang dapat menurunkan atau menghilangkan kandungan asam pitat pada jagung.

D.    CARA MENGURANGI ASAM PITAT DALAM BAHAN PAKAN

       Beberapa senyawa bisa menjadi tidak aktif dengan berbagai proses seperti pencucian, perebusan atau pemanasan. Apabila panas digunakan untuk menginaktifkan senyawa antinutrisi perlu dipertimbangkan agar tidak merubah kualitas nutrisi bahan pakan, tetapi ada beberapa kejadian kalau digunakan panas yang ekstrim bisa juga berperan untuk membentuk senyawa toksik.
       Adapun cara memecahkan masalah adanya P-phytat dalam ransum yaitu :
1.      Upaya yang telah dilakukan untuk mengurangi pencemaran P terhadap lingkungan adalah menambahkan enzim fitase yang akan memecah senyawa pitat yang ada dalam jagung, sehingga P yang ada dapat tersedia bagi ternak. Beberapa peneliti telah merakit jagung berkadar fitrat rendah, sehingga P yang ada dapat dimanfaatkan oleh ternak monogastrik (berperut tunggal). Kelemahan dari penambahan phytase ke dalam ransum akan menambah biaya ransum dan phytase mudah rusak selama proses pelleting. Sebagiannbesar phytase didenaturasi pada suhu 65oC. Sebaiknya enzym phytase ditambahkan setelah proses pengolahan.
2.      Penambahan sumber pospor lainnya kedalam ransum seperti dicalcium pospat. Sebagian besar cereal dan suplemen protein nabati relative rendah kandungan phytase kecuali dedak gandum, sedangkan biji yang mengandung minyak kandungan phytat lebih tinggi.
3.      Cara lain yang digunakan dalam melonggarkan ikatan phytat adalah dengan jalan fermentasi dengan menggunakan EM4.  Hasil penelitian dari Arief et. al., (2011) jagung yang difermentasi dengan ragi tempe menunjukkan lama fermentasi menurunkan nilai pH, meningkatkan total asam, menurunkan Rendemen, dan kadar asam pitat. Lama fermentasi 36 jam menghasilkan tepung jagung dengan pH 4,3, total asam 2,5%, rendemen 68,02%, dan kadar asam pitat 0,13 ppm.
4.      Adapun cara lain selain cara di atas adalah dengan perlakuan fisik seperti pemanasan atau perebusan. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Pangastuti dan Tribowo (1996) bahwa lama waktu perebusan berpengaruh terhadap kadar asam phytat pada kedele dengan perlakuan P 12 (direndam selama 12 jam sebelum direbus) turun dari 1,360% menjadi 1,113%. Untuk P18 (direndam selama 18 jam sebelum direbus) turun dari 1,480% menjadi 1,300% dan untuk Perlakuan 24 jam (direndam selama 24 jam sebelum direbus) turun dari 1,273% menjadi 1,047%. Perebusan biasanya dilakukan dengan suhu 50 – 60 oC yang dapat menurunkan atau melonggarkan ikatan phytat terhadap fosfor.



SIMPULAN

              Jagung  selain mengandung senyawa yang berguna bagi tubuh, juga mengandung senyawa anti nutrisi berupa asam pitat yang dapat menghambat penyerapan mineral dalam tubuh dalam pencernaan. Untuk mencegah terjadinya penurunan daya cerna mineral, maka perlu dilakukan cara yang dapat menurunkan atau menghilangkan kandungan asam pitat pada jagung. penambahan pitase dan sumber pospor merupakan cara pengurangan asam pitat dalam bahan pakan. Selain itu juga bahan pakan yang difermentasi dan diberi perlakuan fisik seperti pemanasan dan perebusan bisa mengurangi bahkan menghilangkan kandungan zat antinutrisi yaitu asam pitat.



 


DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2013. Perubahan kandungan senyawa fitat selama pengolahan. http://www.geocities.com/meteorkita/egdp-fitat.rtf.
Arief, Ratna Wylis., Irma Irawati, dan Yusmasari. 2011. Penurunan Kadar Asam Fitat Tepung Jagung Selama Proses Fermentasi Menggunakan Ragi Tape . Seminar Nasional Serealia. 8 : 590-597
Onofiok, N. O. and D.O. Nnanyelugo. 2006. Weaning Food in West Africa: Nutricional Problems and Posible Solution.
Pallauf, J. and G, Rimbach. 1996. Nutritional significance of phytic acid and Phytase, Arch. Animal Nutrition. 50 : 301-319.
Pangastuti dan Triwibowo, 1996. Pengaruh Lama Perendaman, Perebusan dan Pengukusan Terhadap Kandungan Asam Pitat Dalam Tempe Kedelei. Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI, Jakarta PPOM Dirjen POM Departemen Kesehatan RI, Jakarta.
Reddy, N. R,S.K. Shate and D.K. Salunkhe. 1982. Phytates in legumes and Cereals. Advance in Food Research 28 : 1 – 92.
Tangendjaja, Budi., dan Elizabeth Wina.  Limbah Tanaman dan Produk Samping Industri Jagung untuk Pakan. Balai Penelitian Ternak, Bogor
Widodo, Wahyu, 2005. Tanaman Beracun dalam Kehidupan Ternak. Universitas Muhammadyah Malang Press, Malang
William, P. J. and Taylor, T. G. 1985. A Comparative study of phytate hydrolisis in the gastrointestinsl track of the golden hamster (Mesocricetus auratus) and the laboratory rat. Br. J. Nutr. 54, 429 – 435.

 

Rabu, 11 Juni 2014

PENGEMBANGAN SISTEM TIGA STRATA TERHADAP MANAJEMEN LINGKUNGAN PETERNAKAN

A.    SISTEM TIGA TRATA
Ketersediaan pakan sepanjang tahun dapat diatasi dengan menggunakan sistem tiga strata (STS). Sistem Tiga Strata adalah cara penanaman rumput, leguminosa, semak dan pohon-pohon sedemikian rupa sehingga hijauan pakan tersedia sepanjang tahun. Pertama kali sistem ini dikembangkan oleh petani Bali dengan membagi lahan menjadi berlapis-lapis. Lapisan pertama terdiri dari rumput dan legum yang dimaksudkan untuk menyediakan pakan awal musim penghujan, lapisan kedua terdiri dari semak-semak yang dimaksudkan untuk menyediakan pakan pada pertengahan dan akhir musim penghujan, lapis ketiga terdiri dari pepohonan dimaksudkan untuk menyediakan pakan pada musim kemarau (Proyek Pengembangan Penyuluhan Kehutanan, 1997).
Dampak atau pengaruh positif STS adalah meningkatkan produksi palawija pada bahan inti STS akibat kecenderungan peningkatan kesuburan tanah. Peningkatan kuantitas hijauan pakan 20% untuk masing-masing stratum (lapisan) selain peningkatan kualitas hijauan pakan karena stelo, centro, gamal dan lamtoro adalah tanaman legum yang daunnya mengandung 25-30% protein kasar (Nitis et al., 2000).  .


B.     KESUBURAN LAHAN PADA SISTEM TIGA STRATA

Sistem tiga strata integrasikan tanaman legum untuk perbaikan kesuburan tanah karena sumbangan nitrogen dari nodul pada akar, (Nitis et al., 2000).  Tanaman legum merupakan sumber bahan organik yang murah dan berperan dalam membangun dan mempertahankan kesuburan tanah. Jumlah bahan organik yang dikembalikan ke dalam tanah perlu diperhitungkan karena memiliki banyak manfaat. Bahan organik mengandung lebih banyak unsur yang dalam bentuk tersedia bagi tanaman, hara yang terkandung dilepaskan secara perlahan-lahan sehingga ketersediaan hara sesuai pertumbuhan tanaman serta mempercepat penyerapan unsur tertentu serta memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah, (Soetanto 2002). Selanjutnya dikatakan bahwa bahan organik yang berasal dari pupuk hijau seperti legum dapat mencegah proses pelindian unsur hara.
Kandungan bahan organik dari tanaman legum ini dapat bermanfaat bagi tanaman berikutnya. Menurut Reijntjes (1999) bahwa bahan organik yang terdapat dalam tanah dapat menjamin kondisi tanah yang mendukung bagi pertumbuhan tanaman. Selain itu dikatakan pula bahwa perakaran legum dapat meningkatkan daya ikat tanah sehingga tidak terbawa oleh erosi dan dapat meningkatkan bahan organik tanah, Purwanto (2007). Dengan demikian kontribusi bahan organik dari tanaman legum memiliki peran yang cukup berarti bagi pengembangan pertanian.
C.    PENYEDIAAN PAKAN SEPANJANG TAHUN

Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan hijauan pakan adalah iklim, tanah, spesies hijauan dan manajemen. Produksi hijauan pakan terutama pada daerah non irigasi akan melimpah pada musim penghujan, sebaliknya pada musim kemarau produksi sangat rendah (Utomo, 1988). Ketersediaan pakan sepanjang tahun dapat diatasi dengan menggunakan sistem tiga strata.  Pada lahan hutan produksi lahan lebih terbuka untuk pengembangan hijauan pakan yaitu: pada periode-periode permulaan, sebagai usaha diversifikasi kehutanan untuk menghasilkan hijauan pakan kualitas unggul (lamtoro, kaliandra, albizia) secara komersial, pengembangan hijauan pakan ditepi-tepi hutan, baik berupa daerah penyangga maupun sekedar sebagai pasar hidup          (Hasnudi et al., 2004). Komposisi botani pakan hijuan yang diberikan ternak pada 4 bulan musim hujan sebagian besar terdiri dari rumput dan legum, pada 4 bulan awal musim kering sebagian besar terdiridari daun semak, sedangkan pada 4 bulan akhir musim kering sebagian besar terdiridari daun pohon pakan ( Nitis et al., 2000)

D.    PRODUKTIVITAS TERNAK PADA SISTEM TIGA STRATA

Pemberian pakan STS, selain mampu menyediakan jumlah yang cukup juga kualitasnya sesuai dengan kebutuhan ternak untuk aktivitas fisiologis berikutnya. Bobot lahir maupun bobot sapih yang lebih berat pada STS menunjukkan bahwa kualitas pakan lebih baik pada STS. Hal ini juga dilaporkan oleh Putra (2006a) dan Putra (2006b) bahwa dengan pemberian daun gamal yang ada pada STS, mampu meningkatkan pertumbuhan dan aktivitas mikroba rumen dalam mendegradasi pakan. Dengan demikian, produk fermentasi rumen (metabolit rumen) sebagai produk antara dari proses pencernaan dapat dimanfaatkan secara lebih efisien oleh ternak induk untuk aktivitas fisiologisnya, sehingga kondisi fisiologis ini dapat menyediakan metabolit rumen yang relatif lebih banyak, dan dapat dimanfaatkan oleh ternak secara lebih efisien, baik untuk pertumbuhan induk selama umur kebuntingan, sehingga menghasilkan bobot lahir yang lebih tinggi, dan mempercepat perbaikan kondisi tubuh induk pascapartus serta pencapaian bobot sapih yang lebih tinggi.
KESIMPULAN
Sistem tiga strata adalah sistem penanaman dan pemotongan rumput, legum, semak dan pohon sehingga hijauan pakan ternak tersedia sepanjang tahun. Sistem tiga strata integrasikan tanaman legum mampu memberikan kesuburan tanah karena sumbangan nitrogen dari nodul pada akar. Ketersediaan pakan sepanjang tahun dapat diatasi dengan menggunakan sistem tiga strata. Pemberian pakan STS, selain mampu menyediakan jumlah yang cukup juga kualitasnya sesuai dengan kebutuhan ternak untuk aktivitas fisiologis berikutnya. Bobot lahir maupun bobot sapih yang lebih berat pada STS menunjukkan bahwa kualitas pakan lebih baik pada STS.
DAFTAR PUSTAKA
Agus, S. Pedoman Teknis Perluasan Areal Kebun Hijauan Makanan Ternak.Kementrian Pertanian, Jakarta.
Azmi dan Gunawan. 2007. Usaha tanaman-ternak kambing melalui sistem integrasi.Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, Bengkulu. Seminar NasionalTeknologi Peternakan dan Veteriner. Hal:523-531.
BPTP. 2011. Budidaya Hijauan Makanan Ternak. Lembang, Jawa Barat.
Hasnudi., S. Umar., dan I. Sembiring. 2004. Kumpulan Konsep Sumbang SaranUntuk Kemajuan Dunia Peternakan Di Indonesia. Jurusan Peternakan, FakultasPertanian, Universitas Sumatera Utara. 
Nitis, I., K. Lana., dan A. W. Puger. 2000. Pengalaman pengembangan tanamanternak berwawasan lingkungan di Bali. Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak,Fakultas Peternakan. Universitas Udayana, Denpasar, Bali. Seminar NasionalSistem Integrasi Tanaman-Ternak. Hal: 44-52.
Purwanto I. 2007. Mengenal Lebih Dekat Leguminoseae. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Utomo, R. 1988. Hijauan Makanan Ternak dan Pengawetan. Fakultas Peternakan UGM, Yogyakarta.

STANDAR IDEAL IKLIM MIKRO PERKANDANGAN UNGGAS


No
Iklim (Parameter)
Maksimal
Minimal
Alat Ukur
1.
Suhu
23°C
21°C
thermometer
2.
Kelembapan
75%
50%
hygrometer
3.
Kecepatan Angin
1,5 m/s
1,0 m/s
anemometer
4.
Radiasi Matahari
400 kkal/m2/jam
366 kkal/m2/jam
blackglobe
5.
Gas yang dibutuhkan unggas
O2

±10 liter/jam

6.
Gas yang bersifat racun
H2S
NO2
NH3
800 ppm



1.      SUHU

Suhu nyaman ayam broiler berkisar antara 20 – 24°C (Charles, 1981), sementara suhu harian di daerah tropis pada siang hari dapat mencapai 34 0C. Menurut Baziz et al. (1996), suhu udara lingkungan termonetral untuk ayam adalah 21-23 oC. Pada suhu udara termonetral inilah ayam broiler akan berproduksi optimal. Pemeliharaan ayam broiler pada suhu udara lingkungan di atas 21 oC mengakibatkan ayam mengalami cekaman panas.
Tingginya suhu lingkungan merupakan salah satu penyebab terjadinya stres oksidatif yakni keadaan dimana aktivitas oksidan (radikal bebas) melebihi antioksidan. Hasil penelitian Harlova et al. (2002) menunjukkan bahwa cekaman panas pada ayam broiler (suhu siang hari 35 - 40°C dan malam hari 28 - 300C), nyata menurunkan jumlah sel darah merah, sel darah putih, konsentrasi hemoglobin dan nilai hematokrit darah ayam broiler umur 1 minggu.
Dilaporkan pula bahwa cekaman panas ternyata menyebabkan turunnya kekebalan tubuh, hal ini terlihat dari peningkatan rasio heterofil/limfosit.



2.      KELEMBAPAN

Apabila kelembaban udara lebih besar dari 60%, hara akan tercuci, volume udara berkurang, akibatnya aktivitas mikroorganisme akan menurun dan akan terjadi fermentasi anaerobik yang menimbulkan bau tidak sedap. Menurut Charles dan Hariono (1991), senyawa yang menimbulkan bau dapat mudah terbentuk dalam kondisi anaerob seperti tumpukan kotoran yang masih basah. Senyawa tersebut dapat dihasilkan selama proses dekomposisi pada kotoran ayam. Oleh karena itu, faktor lingkungan yaitu kelembaban udara dapat mempengaruhi jumlah emisi yang dihasilkan.
Hal ini sejalan dengan pendapat NORTH (1982) bahwa kelembaban yang ideal untuk unggas di daerah tropik tidak lebih dari 75%, karena bila lebih dapat menyebabkan perkembangan mikroorganisme meningkat. Kelembaban dapat mempengaruhi penyerapan zat amoniak yang dihasilkan dari kotoran itik, kandungan amonia yang tinggi mengganggu itik dalam pengambilan oksigen sehingga mengganggu metabolisme (Mardalena 2002). Pada Kandang Slat kisaran kelembaban kandang rendah (30%), sirkulasi udara yang baik pada kandang Slat dapat mengurangi cekaman panas pada itik yang dapat menyebabkan kotoran itik yang lebih encer, lantai Slat lebih kering mengurangi polusi amonia karena dekomposisi kotoran sempurna. Kelembaban optimum pada kandang yaitu berkisar antara 55-65% (Purwanto & Yani 2006). Borges et al. (2004) menyatakan bahwa kelembaban udara optimum untuk pertumbuhan ayam broiler berkisar antara 50%-70%. Menurut BPS (1992), ayam broiler akan terkena stress apabila kelembaban udaranya terlalu tinggi yaitu diatas 70%.



3.      KECEPATAN ANGIN

Menurut DEFRA (2005), kecepatan angin di daerah beriklim tropis untuk ayam broiler minimal 1,0 m/s dengan kisaran 1,0-1,5 m/s. Kecepatan angin yang semakin tinggi menyebabkan pencampuran dan penyebaran polutan dari sumber emisi di atmosfer akan semakin besar sehingga konsentrasi zat pencemar menjadi encer begitu juga sebaliknya. Hal ini akan menurunkan konsentrasi zat polutan di udara (Hasnaeni, 2004).

4.      RADIASI MATAHARI

RAdiasi matahari yang baLama cekaman panas semakin menurunkan laju metabolisme dan konsumsi oksigen. Semakin tinggi radiasi matahari mengakibatkan tingginya suhu lungkungan pada perkandangan. Cekaman panas ternak  akibat radiasi matahari langsung menyebabkan respon fisiologisnya lebih tinggi dari ternak  yang ternaungi.

5.      GAS YANG DIBUTUHKAN UNGGAS
Oksigen (O2) sangat dibutuhkan oleh unggas untuk proses metabolism. Standar kandungan oksigen yang harus terhirup oleh unggas sekitar ±10 lt/jam.
6.      GAS YANG BERSIFAT RACUN
Hidrogen sulfida (H2S) merupakan gas yang dapat menghasilkan bau tidak sedap. Gas tersebut bersifat toksik bagi manusia dan ternak, dapat meningkatkan kerentanan terhadap penyakit, dan dapat mengganggu efisiensi aktivitas para pekerja yang berada di sekitar peternakan karena bau yang ditimbulkan (Setiawan, 1996).
Selain gas H2S, terdapat juga gas NO2 yang dibentuk melalui proses mikrobiologi dari nitrifikasi dan denitrifikasi. Gas ini dapat menyebabkan gangguan terhadap kesehatan terutama gangguan pernafasan akut. Gas ini juga dapat menyebabkan keracunan apabila konsentrasinya melebihi ambang batas normal.
Kadar NO2 sebesar 800 ppm akan mengakibatkan 100% kematian pada binatang-binatang yang diuji dalam waktu 29 menit atau kurang. Pemberian NO2 dengan kadar 5 ppm selama 10 menit terhadap manusia mengakibatkan kesulitan dalam bernafas (Wardhana, 2001).
Gas NO2 (nitrogen dioksida), dapat juga merusak jaringan paru-paru dan jika bersama H2O akan membentuk nitric acid (HNO3) yang pada gilirannya dapat menimbulkan hujan asam yang sangat berbahaya bagi lingkungan (Kusuma, 2002).
Penyebab jumlah terbesar timbulnya bau dari peternakan berasal dari berbagai komponen yang meliputi NH3, VOCs, dan H2S (NRC, 2003). Senyawa yang menimbulkan bau ini dapat mudah terbentuk dalam kondisi anaerob seperti tumpukan kotoran yang masih basah. Senyawa tersebut tercium dengan mudah walau dalam konsentrasi yang sangat kecil. Untuk H2S, kadar 0,47 mg/l atau dalam konsentarasi part per million (ppm) di udara merupakan batas konsentrasi yang masih dapat tercium bau busuk. Untuk amonia, kadar rendah yang dapat terdeteksi baunya adalah 5 ppm. Akan tetapi, kepekaan seseorang terhadap bau ini sangat tidak mutlak, terlebih lagi bau yang disebabkan oleh campuran gas (Charles dan Hariono, 1991).
Bau kotoran ayam selain berdampak negatif terhadap kesehatan manusia yang tinggal di lingkungan sekitar peternakan, juga berdampak negatif terhadap ternak dan menyebabkan produktivitas ternak menurun. Pengelolaan lingkungan peternakan yang kurang baik dapat menyebabkan kerugian ekonomi bagi peternak itu sendiri karena gas-gas tersebut dapat menyebabkan produktivitas ayam menurun sedangkan biaya kesehatan semakin meningkat yang menyebabkan keuntungan peternak menipis (Pauzenga, 1991).

DAFTAR PUSTAKA
Kusnadi, E. 2008. Pengaruh temperature kandang terhadap konsumsi ransum dan komponen darah ayam broiler. J.Indon.Trop.Agric.33(3):197-220.

Prasetyanto, N. 2011. Kadar H2S, NO2 dan debu pada peternakan ayam broiler dengan kondisi lingkungan yang berbeda di kab. Bogor, Jawa Barat. Departemen Ilmu produksi dan Teknologi Peternakan. Institut Pertanian Bogor, Bogor. (Skripsi)

DEFISIENSI MINERAL PADA TERNAK UNGGAS

  Peran Mineral dalam Pertumbuhan dan Kesehatan Ternak
Mineral merupakan nutrisi mikro berbentuktuk senyawa anorganik yang menyusun kurang lebih 4% tubuh unggas. Secara garis besar mineral yang berperan penting dalam proses fisiologis ternak dibedakan menjadi mineral essensial makro dan mineral essensial mikro.  Mineral essensial makro  terdiri dari  kalsium (Ca), magnesium (Mg), natrium (Na), kalium (K) dan fosfor (P) sangat diperlukan untuk membangun tubuh dan pertumbuhan ternak. Mineral esensial mikro meliputi zat besi (Fe), Tembaga (Cu), seng (Zn), mangan (Mn) dan iodium (I) berfungsi dalam aktivitas system enzim dan hormon dalam proses pertumbuhan ternak serta pembentukan darah. Kalsium merupakan unsur yang sangat esensial dalam pembentukan tulang dan kerabang telur. Fungsi lain dari kalsium yaitu mengatur kerja system syaraf, membantu dalam mekanisme penyerapan vitamin B12, mengatur kontraksi otot dan sangat penting untuk pertumbuhan normal. Fosfor memiliki fungsi metabolic dalam pembentukan tulang, serta berperan dalam proses pembentukan energy dan mengatur keseimbangan asam basa di dalam tubuh. Zat besi (Fe) sangat berguna untuk pembentukan sel darah dan proses enzimatis dalam tubuh. Dari total kandungan Fe dalam tubuh sebagian digunakan untuk proses metabolism dan sebagian disimpan sebagai cadangan. Tembaga (Cu) berperan sangat penting dalam proses metabolism energy dalam sel serta system transmisi impuls saraf, system kardiovaskuler, dan system kekebalan. Cu juga berperan dalam proses metabolisme estrogen. Seng (Zn) berperan sebagai komponene dan kativator enzim, serta bertanggung jawab pada perkembangan embrio dan pembentukan tulang. Iodine (I) dan selenium (Se) dapat berfungsi sebagai antioksidan untuk mencegah stres oksidatif, mendukung fungsi kelenjar tiroid (yang menghasilkan hormon tiroksin untuk pertumbuhan dan perkembangan) maupun berperan menjaga kekebalan tubuh. Selenium juga berfungsi meningkatkan daya tahan terhadap penyakit, menurunkan angka kematian dan meningkatkan pertambahan berat badan. Selain itu selenium juga meningkatkan kualitas daging dengan mengurangi drip loss (hilangnya cairan dari dalam tubuh), membantu menyempurnakan pertumbuhan bulu pada ayam tipe lambat bulu, meningkatkan kualitas kerabang, meningkatkan kualitas kuning dan putih telur.

 Gejala Defisiensi Mineral


http://info.medion.co.id/images/stories/infomedion/tatalaksana/2011/AU_Apr_Gbr1.JPG
http://info.medion.co.id/images/stories/infomedion/tatalaksana/2011/AU_Apr_Gbr3.JPG
Ayan menampakkan gejala kekurangan kalsium
Ayam mengalami anemia tampak pucat pada paruh dan jengger
http://info.medion.co.id/images/stories/infomedion/tatalaksana/2011/AU_Apr_Gbr2.JPG
http://info.medion.co.id/images/stories/infomedion/penyakit/2012/September2012/AU_Sep12_Exudative.jpg
Ayam mengalami perosis
Exudative diathesis, salah satu perubahan organ
(Sumber : www.thepoultrysite.com)

Defisiensi mineral pada ternak dapat menimbulkan gejala klinis yang spesifik untuk setiap mineral, namun kadang-kadang gejala tersebut hamper mirip, sehingga untuk menentukan diagnosis penyakit defisiensi mineral perlu dilakukan analisis kandungan mineral dalam darah ternak dengan mengambil serum ternak yang hidup. Akibat dari defisiensi kalsium (Ca) pada unggas adalah terjadinya kelainan tulang, pembesaran persendian, kelumpuhan dan pelunakan tulang tua. Defisiensi pospor (P) pada unggas  akan menimbulkan rachitis dan osteomalacia, pica atau kelainan nafsu makan, suka makan tanah, tulang atau kayu,  kelemahan otot dan persendian. Defisiensi mangan (Mn) menyebabkan tetany yaitu kejang-kejang dan sempoyongan. Selain itu, perosis (kaki bengkok) pada anak ayam, penurunan produksi dan kualitas kerabang telur.  Defisiensi kalium (K) akan terjadi pertumbuhan yang terganggu, lemah, mudah terkena tetanus yang diikuti kematian. Defisiensi seng (Zn) akan mengakibatkan pertumbuhan ayam yang lambat, bulu abnormal, luka/peradangan pada kulit (dermatitis), pembengkakan sendi, menurunnya nafsu makan dan kualitas kerabang telur menurun.  Defisiensi tembaga (Cu) akan terjadi pertumbuhan bulu yang terganggu dan anemia. Defisiensi Fe akan mengalami gejala kadar hemoglobin menurun, anemia, dan gangguan pertumbuhan bulu. Defisiensi iodine (I) akan mengakibatkan daya tetas menurun, gangguan pertumbuhan kelanjar thyroid (gondok), pertumbuhan unggas menjadi lambat. Defisiensi selenium (Se) mengakibatkan imunitas dan produksi  terganggu, kerabang tipis, exudative diathesis, muscular dystrophy.

Tindakan Defisiensi Mineral    
Secara ilmiah, mineral essensial makro dan mikro selalu ada di dalam tanaman, termasuk biji-bijian yang didgunakan campuran ransum untuk pakan. Ternak yang mengkonsumsi ransum yang kurang kandungan mineralnya akan mengalami defisiensi mineral. Hal yang harus diperhatikan sebelum menghadapi kasus defisiensi mineral dengan memastikan kualitas ransum dan konsumsi ransum masuk sesuai dengan standar dari perusahaan pembibit (breeder). Bila kualitas ransum kurang baik, maka melakukan suplementasi ransum untuk meningkatkan kualitas ransum. Suplementasi seng pada ternak dapat meningkatkan pertumbuhan ternak dan aktivitas enzim fosfatase alkali serta anhidrase karbonat serum darah.  Suplementasi fitase menyebabkan peningkatan tersediaan mineral. Hal tersebut dikarenakan suplemenasi fitase dapat menghidrolisis fitat dan meningkatkan konsentrasi mineral seperti magnesium, kalsium, mangan dan seng dalam plasma tulang dan seluruh tubuh.

KESIMPULAN 
Mineral merupakan nutrisi mikro yang berbentuk senyawa anorganik yang menyusun kurang lebih 4% tubuh unggas, namun perannya sangat penting dalam pertumbuhan dan kesehatan hewan. Mineral esensial dibedakan menjadi mineral esensial makro dan mikro. Keduanya sangat diperlukan untuk membangun tubuh dan pertumbuhan ternak serta berfungsi dalam aktivitas system enzim dan hormon dalam proses pertumbuhan ternak serta pembentukan darah. Ternak yang mengalami defisiensi mineral akan menyebabkan berbagai penyakit yang mampu menurunkan produktivitas ternak seperti anemia, pertumbuhan yang lambat, perosis, imunitas dan produksi terganggu serat kerabang telur yang tipis. Suplementasi mineral yang ditambahkan ke dalam ransum merupakan tindakan yang baik untuk menghindari gejala defisiensi mineral.

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Zainal. 2007. Pentingnya Mineral Tembaga (Cu) dalam Tubuh Hewan dalam Hubungannya dengan Penyakit. Wartazoa Vol. 17 No. 12 Th.2007. Balai Besar Penelitian Veteriner, Bogor.
Darmono. 2011. Suplementasi Logam dan Mineral untuk Kesehatan Ternak dalam Mendukung Program Swasembada Daging. Pengembangan Inovasi Pertanian 4(3), 2011: 205-217. Balai Besar Penelitian Veteriner, Bogor.
Info Medion Online (http://info.medion.co.id).
Nisa, Khufyatun Amalia dan Leny Yuanita. 2014. Pengaruh Asam Sitrat dan Fitase Bacillus subtilis Holiwood Gresik pada Jagung (Zea mays L.) terhadap Daya Cerna Protein dan Bioavabilitas Zink. UNESA Journal of Chemistry Vol.3, No.1, January 2014.Universitas Negeri Surabaya, Surabaya.

Tarmidi, Ana Rochana. Kajian Fungsi Mineral Seng (zn) Bagi Ternak. 1-15.

Senin, 17 Maret 2014

KESUKSESAN SEJATI

Alhamdulillahirobbilalaminn, bigthanks God J kasih sayang dan kenikmatan luar biasa yang telah diberikan Allah kepada saya, atas izin Allah akhirnya saya bisa mengikuti suatu event yang sangat istimewa. ESQ Leadership Training merupakan suatu pelatihan yang selama ini saya idamkan dari dulu. Transformasi menjadi pribadi yang lebih berkualitas dan selalu bermanfaat bagi sesama merupakan harapan kedepan untuk saya. Hati dan pikiran yang sebelumnya masih tertutup oleh tirai, insyaAllah terbuka lebar agar mampu menatap dengan jelas untuk masa depan.
Kesuksesan di masa depan pastilah menjadi harapan semua orang, namun apabila tidak kita perjuangkan dari sekarang apakah esok di masa depan kita akan memetiknya?? Saya rasa tidak. Kita harus mempersiapkan bekal kesuksesan itu mulai dari sekarang. Tumbuhkan benih-benih kebaikan, perilaku positif, patuh terhadap aturan dan perintah Allah. Buanglah semua kebiasaan buruk dan hal-hal negatif yang mampu menurunkan kualitas iman kita.  Membiasakan evaluasi diri kita dan mengupgrade nya menjadi pribadi emas yang berkualitas agar pantas dicontoh oleh pribadi yang lain.  Jadikan waktu kita tidak terbuang oleh hal-hal yang menciptakan kemudharatan namun manfaatkan waktu dengan hal-hal positif yang menjadi bekal kita untuk kesuksesan masa depan di dunia maupun akhirat. Change the bad to good, change the good to the great, and Istiqomah ! J
Kesuksesan bukan dijamin oleh tingkat IQ (kecerdasan intelektual) seseorang, namun kesuksesan lebih dipengaruhi oleh kecerdasan emosi dan spiritual seseorang. Banyak orang yang dulunya mendapatkan nilai tertinggi dan menjadi lulusan terbaik namun dia tak peduli dengan orang lain menjadikan dia kurang berprestasi di dalam pekerjaannya. Hal tersebut membuktikan bahwa ilmu tidak menjamin kesuksesan yang berkelanjutan. Hampir semua orang menginginkan kesuksesan dengan alasan ingin mendapatkan uang banyak, agar mampu membahagiakan dan meningkatkan derajat ekonomi  orang tua, pasangan hidup, sanak saudara dan orang-orang lain yang dicintainya. Karena merekalah yang tak pernah absen memberikan semangat hidup, selalu memberikan motivasi, kasih sayang dan cintanya mereka itulah alasannya.

Namun sadarkah kita, siapakah yang meniupkan suara hati mereka sehingga kita semangat dalam menggapai sukses? Semua suara hati positif itu adalah kehendak Allah yang meniupkannya ke dalam hati orang-orang yang kita cintai. Seringkali kita lalai akan hal itu, menjadikan kita lebih mencintai mereka dan sedikit rasa cinta yang kita berikan kepada Allah. Astaghfirullohaladzim L sekarang  sadarkan hati kita, tingkatkan cinta kita kepada Allah melebihi orang-orang yang kita cintai. Sejatinya kesuksesan seseorang itu ditentukan oleh emosional dan spiritual kita dengan alasan karena Allah, sebuah kerinduan yang mendalam akan pertemuan kita dan Allah di Surga kelak.