Senin, 16 September 2013

PENGARUH IKLIM DENGAN TERNAK DAN PENGAWETAN MAKANAN TERNAK RUMINANSIA

TUGAS ESSAY
PENGANTAR ILMU INDUSTRI PETERNAKAN

1. Pengaruh Iklim dengan Ternak
2. Pengawetan Hijauan Makanan Ternak Ruminansia
               

Disusun oleh :

Nama           : HARUM ISHMA SAVITRI
NIM             : 23010112130093
Kelas            : B








FAKULTAS  PETERNAKAN DAN PERTANIAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2012



PENGARUH IKLIM TERHADAP TERNAK

  I.   PENDAHULUAN
Faktor lingkungan yang berpengaruh langsung pada kehidupan ternak adalah iklim. Iklim merupakan faktor yang menentukan ciri khas dari seekor ternak. Ternak yang hidup di daerah yang beriklim tropis berbeda dengan ternak yang hidup di daerah subtropis. Namun hal tersebut dapat diatasi misalnya di beberapa negara tropis, Air Condition (AC) digunakan dalam beternak untuk mengendalikan atau menyesuaikan suhu di lingkungan sekitar ternak yang berasal dari daerah subtropis, sehingga ternak tersebut dapat berproduksi dengan normal.
Penulisan ini memiliki tujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengenalan Industri Peternakan. Menbahas lebih lanjut tentang iklim merupakan hal terpenting dalampenentuan kerja status fisiologi dari ternak terutama pada produktivitasnya. Dan bermanfaat bagi pembaca dalam  memahami pengaruh iklim dan unsur-unsur lain seperti suhu dan kelembaban yang dapat mempengaruhi fisiologi ternak.

    II.  ISI
A.    IKLIM
Iklim merupakan salah satu faktor  yang berpengaruh langsung terhadap ternak juga berpengaruh tidak langsung melalui pengaruhnya terhadap faktor lingkungan yang lain. Selain itu berbeda dengan faktor lingkungan yang lain seperti pakan dan kesehatan, iklim tidak dapat diukur atau dikuasai sepenuhnya oleh manusia. Untuk memperoleh produktivitas ternak yang efisien, manusia harus “menyesuaikan”dengan iklim setempat. Iklim yang cocok untuk daerah peternakan adalah pada klimat semi-arid. Daerah dengan klimat ini ditandai dengan kondisimusim yang ekstrim, dengan curah hujan rendah secara relatif  dan musim kering yang panjang. Iklim yang ada di berbagai daerah tidaklah sama, melainkan bervariasi tergantung dari faktor-faktor yang tak dapat dikendalikan (tetap) seperti altitude (letak daerah dari ekuator, distribusi daratan dan air, tanah dan topografinya) dan latitude (ketinggian tempat) dan faktor-faktor tidak tetap (varieble) seperti aliran air laut, angin, curah hujan, drainase dan vegetasi.
Temperatur lingkungan adalah ukuran dari intensitas panas dalam unit standar dan biasanya diekspresikan dalam skala derajat celcius. Secara umum, temperatur udara adalah faktor bioklimat tunggal yang penting dalam lingkungan fisik ternak. Supaya ternak dapat hidup nyaman dan proses fisiologi dapat berfungsi normal, dibutuhkan temperatur lingkungan yang sesuai.  Temperatur lingkungan yang paling sesuai bagi kehidupan ternak di daerah tropik adalah 10oC-27oC. sedangkan keadaan lingkungan yang ideal untuk ternak di daerah sub tropis (sapi perah) adalah pada temperatur antara 30o -60 oF dan kelembaban rendah. Kenaikan temperatur udara di atas 60oF  relatif mempunyai sedikit efek terhadap produksi.
B.     FISIOLOGIS TERNAK
Fisiologis ternak meliputi suhu tubuh, respirasi dan denyut jantung. Suhu tubuh hewan homeotermi merupakan hasil keseimbangan dari panas yang diterima dan dikeluarkan oleh tubuh. Dalam keadaan normal suhu tubuh ternak sejenis dapat bervariasi karena adanya perbedaan umur, jenis kelamin, iklim, panjang hari, suhu lingkungan, aktivitas, pakan, aktivitas pencernaan dan jumlah air yang diminum. Suhu normal adalah panas tubuh dalam zone thermoneutral pada aktivitas tubuh terendah. Respirasi adalh proses pertukaran gas sebagai suatu rangkaian kegiatan fisik dan kimis dalam tubuh organisme dalam lingkungan sekitarnya. Oksigen diambil dari udara sebagai bahan yang dibutuhkan jaringan tubuh dalam proses metabolisme. Kecepatan respirasi meningkat sebanding dengan meningkatnya suhu lingkungan. Kelembaban udara yang tinggi disertai suhu udara yang tinggi menyebabkan meningkatnya frekuensi respirasi. Pada suhu lingkungan tinggim denyut nadi meningkat. Peningkatan ini berhubungan dengan peningkatan respirasi yang menyebabkan meningkatnya aktivitas otot-otot respirasi, sehingga dibutuhkan darah lebih banyak untuk menyuplai O2 dan nutrien melalui peningkatan aliran darah dengan jalan peningkatan denyut nadi. Bila cekaman panas akibat temperatur lingkungan yang tinggi maka frekuensi pulsus ternak akan meningkat, hal ini berhubungan dengan peningkatan frekuensi respirasi yang menyebabkan meningkatnya aktivitas otot-otot respirasi, sehingga mempercepat pemompaan darah ke permukaan tubuh dan selanjutnya akan terjadi pelepasan panas tubuh.
C.    STRES
Stres adalah respon fisiologi, biokimia dan tingkah laku ternak terhadap variasi faktor fisik, kimia dan biologis lingkungan. Dengan kata lain, stres terjadi apabila terjadi perubahan lingkungan yang ekstrim, seperti penimngkatan temperatur lingkungan atau ketika toleransi ternak terhadap lingkungan menjadi rendah. Strea panas terjadi apabila temperatur lingkungan berubah menjadi lebih tinggi di atas ZTN. Pada kondisi ini, toleransi ternak terhadap lingkungan menjadi rendah atau menurun, sehingga ternak mengalami cekaman. Stres panas ini akan berpengaruh terhadap pertumbuhan, reproduksi dan laktasi sapi perah termasuk di dalamnya pengaruh terhadap hormonal, produksi susu dan komposisi susu.
D.    EFEK TERHADAP HORMONAL
Temperatur berhubungan dengan fungsi kelenjar endokrin. Stres panas memberikan pengaruh yang besar terhadap sistem endokrin ternak disebabkan perubahan dalam metabolisme. Ternak yang mengalami stres panas akibat meningkatnya temperatur lingkungan, fungsi kelenjar tiroidnya akan terganggu. Hal ini akan mempengaruhi selera makan dan penampilan. Stres panas kronik juga menyebabkan  penurunan konsentrasi growth hormone dan glukokortikoid. Pengurangan konsentrai hormon ini, berhubungan dengan pengurangan laju metabolik selama stres panas. Setelah itu, selama stres panas konsentrasi prolaktin meningkat dan diduga meningkatkan metabolisme air dan elektrolit. Hal ini akan mempengaruhi hormon aldosteron yang berhubungan dengan metabolisme elektrolit tersebut. Pada ternak yang menderita stres panas, kalium yang disekresikan melalui keringat tinggi menyebabkan pengurangan konsentrasi aldosteron.

 III.   KESIMPULAN
Lingkungan berpengaruh besar terhadap sifat genetik ternak. Penerapan ternak di daerah yang sesuai akan menunjang dihasilkannya produksi secara optimal. Suhu dan kelembaban lingkungan yang tinggi dapat menyebabkan stress terhadap ternak sehingga fisiologis ternak tersebut meningkat dan konsumsi pakan menurun, sehingga produktivitasnya menurun. Suhu tubuh dengan suhu rektal dan suhu kulit saling berpengaruh karena suhu tubuh didapat dari kedua suhu tersebut. Frekuensi pernapasan berpengaruh kepada lingkungan, apabila suhu dan kelembaban naik maka frekuensi respirasi dan denyut jantung akan meningkat. Daya tahan  terhadap panas dapat dihitung dengan melihat jumlah keringat yang diekskresikan oleh hewan atau ternak.

DAFTAR PUSTAKA

Reksohadiprojo, S. 1984. Pengantar Ilmu Peternakan Tropik. BPFE, Yogyakarta
Sientje. 2003. Stres Panas pada Sapi Perah Laktasi. IPB. Bogor
Wiroretno, Dyah Kusumo Utari., 1983. Cara Pengukuran Ekskresi Keringat untuk Mengetahui Daya Tahan Panas Sapi Potong. UNPAD University Press, Bandung



PENGAWETAN HIJAUAN MAKANAN TERNAK RUMINANSIA

       I.   PENDAHULUAN
Hijauan merupakan pakan utama bagi ternak ruminansia. Hijauan terdiri dari jenis rumput dan legume. Umumnya hijuan makanan ternak mempunyai tingkat prosuksi yang tinggi pada musim penghujan. Pada musim kemarau, ketersediaan hijuan makanan ternak menjadi terbatas karena kemampuan tumbuh hijauan pada musim kemarau berkurang. Bila tidak ditangani secara serius maka pemenuhan hijauan makanan ternak untuk pada musim kemarau akan menjadi masalah rutin yang melanda dunia peternakan Indonesia.
Penulisan ini memiliki tujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengenalan Industri Peternakan. Menbahas lebih lanjut tentang Pengawetan HIjauan Makanan Ternak pada Ruminansia. Dan bermanfaat bagi pembaca dalam  memahami tentang pengawetan hijauan ternak secara silase maupun hay.

    II.   ISI
Pengawetan Hijauan Makanan Ternak
Teknologi pengawetan merupakan usaha untuk mempertahankan kualitas hijauan makanan ternak dalam waktu yang lama. Teknologi pengawetan hijauan makanan ternak bertujuan untuk menjamin ketersediaan pakan ternak sepanjang tahun dengan kualitas yang relatif cepat. Pengawetan hijauan makanan ternak dapat dilakukan melalui pembuatan silase dan wastelage. Masalah yang dihadapi dalam pengawetan hijauan makanan ternaka adalah diperlakukannya proses pengeringan untuk mengurangi kadar air hijauan sehingga tidak akan cepet rusak. Pengeringan hijauan dengan sinar matahari sangat tergantung pada keadaan cuaca. Untuk mempercepat proses pengeringan diperlukan alat pengering. Selain itu menyimpan hijauan dalam bentuk silase memerlukan silo untuk menampung kelebihan hijauan tersebut. Teknologi pengawetan tersebut adalah sebagai berikut:
A.    Silase
Silase adalah hasil proses fermentasi yang dilakukan dengan maksud untuk mengawetkan hijauan makanan ternak (jerami) dalam keadaan basah (lembab). Silase dapat dibuat dari berbagai tanman hijauan(rerumputan dan leguminosa). Sebaiknya, hijauan yang digunakan sebagai silase adalah daun yang dipotong pada saat akan berbunga. Maslah yang dihadapi dalam pengawetan hijauan makanan ternak adalah diperlakukannya proses pengeringan untuk mengurangi kadar air hijauan sehingga tidak akan cepat rusak. Pengeringan dengan sinar matahari sangat tergantung dengan cuaca. Untuk mempercepat proses pengeringan diperlakukan alat pengering. Selain itu, penyimpanan hijauan dalam bentuk silase memerlukan silountuk menampung kelebihan hijauan tersebut.
Adapun beberapa tempat yang dapat digunakan untuk membuat silae, adalah sebagai berikut:
1.      Upright Silo, yaitu tempat pembuatan silase yang berupa bangunan silinder dibuat dari tembok, kayu, atau baja dengan lapisan kaca. Upright silo memiliki tinggi 24m dengan diameter 6 m.
2.      Trench (pit) Silo, yaitu tempat pembuatan silase yang berupa bangunan memanjang di atas permukaan tanah. Pada salah satu ujungnya dilengkapi dengan pintuuntuk mempermudah pengambilan silase. Bangunan ini harus dijaga agar jangan sampai tergenang air.
3.      Bunker Silo, yaitu tempat pembuatan silase yang berupa bak besar di atas permukaan tanah yang datar, yang dibuat dari tembok atau kayu. Penutup pada bagiian atasnya dibuat dari plastuk atau bahan lain yang tidak tembus udara.
4.      Parit atau Lubang, yaitu tempat pembuatan silase yang dibuat pada tanah yang miring atau mendatar. Sebelum digunakan, parit ini harus dilapisi terlebih dahulu dengan plastin untuk menghindari tercampurnya silase  dengan tanah. Parit atau lubang unu harus dibuat pada lokasi yang tidak tergenang air.
5.      Kantong plastik atau drum plastik, kedua wadah ini dapat digunakan sebagai tempat pembuatan silase. Agar kedap cahaya, kantong plastik atau drum plastik yang digunakan harus berwarna gelap.
Adapun cara singkat membuat silase adalah sebagai berikut :
1.    Siapkan peralatan yang diperlukan seperti hijuan, chopper, silo dan timbangan.
2.    Hijauan dipotong dengan ukuran sekitar 5 cm menggunakan chopper.
3.    Hijauan dimasukan kedalam silo selapis demi selapis.
4.    Padatkan sepadat mungkin rumput di dalam drum tersebut dengan cara ditekan atau diinjak-injak agar tidak ada ruang untuk oksigen. Hal ini dilakukan supaya silase yang dihasilkan memilki kualitas yang baik.
5.    Tutup dan tekan udara didalam keluar kemudian ikat palstik tersebut secara rapih, rapat dan tidak ada udara masuk kedalam serta jangan sampai bocor.
6.    Setelah selesai letakan beban diatas tutup silo agar mendapat tekanan kebawah serta tidak ada udara yang masuk. Biarkan fermentasi terjadi, diamkan selama 21 hari agar mendapatkan silase yang baik.

B.     Hay
Hay adalah hijauan rumput, legume atau limbah hasil pertanian yang dikeringkan yang dijadikan bahan pakan bagi ternak ruminansia. Hay sangat penting bagi ternak pada musim paceklik dan selama transportasi. Untuk mendapatkan nilai gizi yang tinggi dan palatabilitas yang tinggi, hijauan atau legume harus dipotong sebelum berbunga. Sehingga pembuatan hay merupakan pemanfaatan hijuan pada saat pertumbuhan terbaik.
Pembuatan hay di Indonesia umumnya masih menggunakan bantuan sinar matahari, karena penggunaan panas buatan masih terlalu mahal. Pada beberapa daerah, pembuatan hay dapat dilakukan dengan memanfaatkan aliran udara.
Cara pembuatan hay, sebagai berikut:
1.      Siapkan hijauan dengan memotong kecil-kecil hijauan tersebut. Bila perlu, lakukan penimbangan untuk mengetahui bobot basahnya.
2.      Jemur hijauan tersebut di bawah sinar matahari selama 1-2 hari agar kadar air berkurang hingga 20-25%. Untuk mengetahui kadar air pada hijauan, perlu dilakukan penimbangan setiap 5jam.
3.      Bila pengeringan sudah merata, ikat hijauan menjadi satu. Kemudian, masukkan ke dalam gudang penyimpanan pakan.
4.      Pemberian hay pada sapi dapat dicampur dengan hijauan lain atau konsentrat secara bebas.

 III.   KESIMPULAN
Ada beberapa cara untuk mengatasi masalah diatas seperti penggunaan limbah pertanian atau perkebunan, pemberian konsentrat serta pengawetan hijauan makanan ternak baik dalam hay maupun silase. Pengawetan hijauan makanan ternak ditujukan untuk mengawetkan rumput atau legume yang mempunyai produksi yang tinggi pada musim hujan agar bisa dimanfaatkan pada musim kemarau.

DAFTAR ISI
Rukama, rahmat. Budi Daya Rumput Unggul, Hijauan Makanan Ternak. Jakarta
Yulianto, Purnawan., Cahyo Saparinto. Pembesaran Sapi Potong Secara Intensif
Darmono. Tatalaksana Usaha Sapi Kereman,



POLA ATAU SISTEM PRODUKSI PADA PETERNAKAN SAPI POTONG DAN BABI

POLA ATAU SISTEM PRODUKSI PADA PETERNAKAN
SAPI POTONG
A.   PRODUKSI INDUK ANAK (Commercial Cow-Calf Producers )
Adalah  jumlah anak yang dapat disapih.  Nantinya, pedet ini dapat digunakan dalam industri sapi potong yang lain, misalnya untuk tujuan breeding atau untuk penggemukan. Dengan demikian, program ini merupakan dasar dari program-program yang lainnya. Hal yang perlu diperhatikan dalam produksi induk-anak sapi potong yaitu tingkat reproduksi (fertilitas) induk, bobot lahir anak, bobot sapih anak, dan mortalitas anak sebelum disapih. Fertilitas induk dapat diukur dengan mengetahui:
1.      Jumlah anak yang dilahirkan setiap tahun.
2.      Jumlah anak yang lahir hidup per 100 induk yang dikawinkan.
3.      Panjang periode kebuntingan.
4.      Jumlah anak per kelahiran.
Sapi-sapi dalam program induk-anak dapat dipelihara di pastura (padang penggembalaan) atau dikandangkan. Kedua sistem pemeliharaan itu memiliki keuntungan dan kerugiaan tersendiri. Sistem penggembalaan akan mengurangi tenaga kerja. Sementara sistem dikandangkan dapat mengurangi modal dalam berinvestasi lahan untuk tanaman hijauan pakan tenak, tetapi biaya pakan dan tenaga kerja menjadi tinggi. Selain itu, kerugian dari sistem dikandangkan yaitu jumlah peralatan bertambah. Penyakit diare kerap timbul pada pedet yang dipelihara dalam kandang.

B.   PEMBESARAN (Yearling-Stocker Operations)
Program pembesaran pedet bertujuan sebagai program finish atau ternak-ternak pengganti (replacement stock) induk maupun pejantan. Ternak-ternak stocker berasal dari ternak-temak program induk-anak. Keuntungan program stocker adalah:
1.      Fleksibel, penyesuaian1besar usaha mudah dilakukan.
2.      Risiko kematian relatif lebih kecil dibandingkan program induk-anak karena stacker merupakan sisa dari anak yang mati saat program induk-anak.
3.      Perputaran modal lebih cepat, yaitu dalam waktu 4-6 bulan.
4.      Dapat menggunakan hijauan relatif lebih banyak dan ongkos pertambahan bobot badan diharapkan serendah mungkin.
5.      Peralatan yang dibutuhkan relatif sedikit dan sederhana.
C.   PENGEMUKKAN (Feedlots)
Program penggemukan merupakan suatu program yang menonjol 1kekhususannya dalam industri daging (beef). Tujuan penggemukan adalah untuk memperbaiki kualitas karkas/daging. Salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas daging adalah deposit lemak dalam karkas. Semakin tinggi kadar lemak, kadar air dalam karkas pun akan semakin menuran. Program ini mempunyai peluang untuk mendapatkan keuntungan atau kegagalan secara bersamaan. Beberapa hal yang menyebabkan kerugian adalah:
1.      Pakan yang digunakan dalam program fattening relatif mahal karena pakan yang diberikan lebih banyak berupa konsentrat daripada hijauan.
2.      Efisiensi penggunaan pakan untuk penggemukan lebih rendah dibandingkan untuk pertumbuhan.
3.      Fluktuasi harga dapat mengurangi keuntungan.




POLA ATAU SISTEM PRODUKSI PADA PETERNAKAN
BABI

A.    Produksi Anak Babi (Feeder Pig)

Sistem produksi anak babi seringkali disebut dengan istilah khisus feeder pig, menghasilkan babi sapihan yang dijual untuk dibesarkan di peternakan yang lain. Sistem ini membutuhkan bahan pakan yang relatif lebih sedikit tetapi sebaliknya membutuhkan tingkat kemampuan tatalaksana yang lebih tinggi agar penerapan usaha itu membawa hasil yang memuaskan. Upaya tatalaksana yang akan diterapkan meliputi seleksi dan pemeliharaan kelompok yaitu pada saat kawin, melahirkan, serta pemeliharaan anak-anak yang lahir. Bila tatalaksana itu dilakukan dengan baik maka akan lebih banyaklah babi yang yang dapat hidup selama pemasaran sebagai feeder pig. Seyogyanya dengan cara ini dapat dihasilkan tiap tahunnya rata-rata 2,2 litter dari tiap induk, dengan jumlah rata-rata 8,5 ekor dari tiap litter, dengan berat saat pemasaran sebesar 20 kg atau lebih.
Untuk memperoleh hasil yang memuaskan. Harus mengupayakan tatalaksana  yang diterapakan meliputi seleksi dan pemeliharaan sebagai berikut:

1.    Memilih bibit yang baik

Pemilihan bibit yang baik merupakan langkah awal keberhasilan suatu usaha peternakan. Syarat-syarat yang perlu diperhatikan pada waktu memilih bibit:
a.         Babi yang sehat, bentuk tubuh yang baik ciri-cirinya : letak puting simetris dan jumlah 12 buah kiri dan kanan, ambing yang besar dengan saluran darah terlihat jelas, tubuh yang padat dan kompak, kaki yang tegap dan kokoh, tubuh yang panjang dibandingkan dari babi-babi yang sama umur.
b.        Anak babi yang akan di ternakan sebaiknya berasal dari induk yang sering menghasilkan anak banyak atau biasanya mempunyai anak lebih dari 5 ekor dalam satu kelahiran dan sanggup atau menjaga anak-anaknya sampai saat lepas susu, maupun pejantan yang sanggup atau mempunyai kemampuan kawin serta menghasilkan anak lebih dari 5 ekor.

2.        Pemeliharaan

Anak babi sejak lahir sampai berumur 10 hari menghadapi suatu masa kritis sebab anak babi sangat sensitif dan tidak berdaya menghadapi lingkungan yang berat. Kematian anak babi sangat menonjol apabila tatalaksana dan pemeliharaan induk dan anak kurang baik. Oleh karena itu perlu diperhatikan beberapa hal dalam pemeliharaan anak-anak babi misalnya:
a.       Pembuatan kandang dengan sekat pengaman dalam kandang, tempat makan.
b.      Menjaga kebersihan kandang secara teratur dan kontinyu.
c.       Segera setelah anak babi lahir, tali pusar diolesi obat merah untuk menghindari infeksi.
d.      Memberi makan dan minum secara teratur.
e.       Bila induk babi mati, anak babi yang masih kecil dapat dipisahkan ke induk yang lain atau diberi susu pengganti sebanyak 0,2 - 0,4 liter/ekor/hari sampai umur 4-5 minggu.
Babi jantan yang digunakan sebagai pejantan pada umur 10 bulan dapat mengawini 1 sampai 2 ekor babi betina/hari dan dalam seminggu jangan lebih dari 3 kali kawin. Perbandingan jumlah pejantan dan induk babi 1 ekor : 8-10 ekor. Anak babi yang tidak digunakan sebagai calon pejantan sebaiknya segera dikebiri berumur kira-kira 3 minggu. Babi yang digunakan sebagai calon induk dikawinkan pertama kali pada umur 9 bulan, sedangkan induk babi yang baru melahirkan sudah dapat dikawinkan kembali setelah umur 12 minggu atau setelah anaknya disapih.

B.     Program Finishing

Program finishing meliputi pertumbuhan dan finishing bagi babi-babi feeder untuk dipotong. Disini tidak dipelihara bibitnya sehingga waktu maupun kegiatan pengolahannya tidak terlalu banyak. Pakan dalan jumlah banyak dan terjangkau harus tersedia untuk program finishing. Babi-babi feeder yang berkualitas baik seringkali didapat melalui pembelian kontrak dengan peternak babi feeder. Usaha pembesaran dan finishing dari berat badan 20kg menjadi 90 atau 100 kg membutuhkan waktu 10 sampai 13 minggu dengan pakan sebanyak 250 sampai 300 kg. Konversi pakannya adalah sekitar 3,2 kg pakan untuk tiap kg pertambahan bobot badan. Jadi 3-4 kelompok babi dapat diselesaikan pembesarannya dalam setahun asalkan pakan dan babi mudanya (tersedia). Karena laju pertumbuhan babi menurun setelah tercapai berat badan 100kg, untuk menghasilkan bobot badan sesudah itu, efisiensinya sangat menurun. Oleh karena itu babi hanya dipasarkan sebelum mencapai bobot badan tersebut.

PRODUKSI TERNAK POTONG

TUGAS ESAY
PENGANTAR ILMU INDUSTRI PETERNAKAN

PRODUKSI TERNAK POTONG
               

Disusun oleh :

Nama           : HARUM ISHMA SAVITRI
NIM             : 23010112130093
Kelas            : B














FAKULTAS  PETERNAKAN DAN PERTANIAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2012

I.     PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang
            Kebutuhan akan konsumsi daging sapi setiap tahun selalu meningkat. Sementara itu pemenuhan akan kebutuhan selalu negatif, artinya jumlah permintaan lebih besar dari pada peningkatan daging sapi sebagai konsumsi.  Namun, saat ini ternak sapi di Indonesia belum bisa memberikan produksi seperti di lua negeri. Hal ini bisa di maklumi, karena sifat pemeliharaannya yang masih tradisional, belum ada suatu penelitian yang bisa memberikan petujuk mengemai jenis sapi yang tepat digemukkan di daerah tropis. Itulah sebabnya para peternak dituntut ketrampilannya untuk menyediakan sapi potong dan kerja.yang berkualitas.
B. Rumusan Masalah
Penulisan ini membahas tentang rumusan masalah:
1.      Bagaimana perkembangan ternak sapi potong di Indonesia?
2.      Bagaimana keadaan produksi ternak di Indonesia?
3.      Bagaimana cara penggemukan secara modern agar membantu peternakan di Indonesia
C. Tujuan dan Manfaat
Penulisan ini memiliki tujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengenalan Industri Peternakan. Menjelaskan mengenai peran penting ternak sebagai sumber pangan hewani bagi manusia. Dan untuk membantu ketrampilan para peternak untuk menyediakan sapi potong dan kerja yang berkualitas.



II. PEMBAHASAN
A.       Perkembangan  Ternak Sapi Potong Dan Kerja
Perkembangan ternak sapi potong dan kerja di Indonesia belum begitu memadai dan belum begitu maju seperti di negara-negara maju. Hal ini tentu saja banyak faktor penyebabnya, antara lain:
a.       Para  petani ternak belum memberikan perhatian sepenuhnya, terutama pada segi pemeliharaan, pemberian makan dan bibit yang dipergunakan.
b.      Konsumen kurang.
Di Indonesia masih berlaku konsumen musiman. Sebab, mereka yang menginginkan akan membeli daging sapi dalam jumlah yang besar hanya terbatas pada hari-hari besar saja, atau bulan-bulan untuk keperluan saja.
c.       Konsumen belum bisa menghargai mutu daging.
Hal ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan mereka baik mengenai manajemen ataupun perusahaan produksi daging. Semua daging di nilai memiliki mutu yang sama.

B.       Produksi Ternak Sapi  Di  Indonesia
Sampai saat ini ternak sapi di Indonesia belum bisa memberikan produksi  ternak diluar negeri. Hal ini bisa di maklumi, karena:
  1. Sifat pemeliharaannya yang masih tradisional.
  2. Pada umumnya para petani ternak memberikan pakan dan jumlah terbatas dan mutu yang kurang.
  3. Tidak  adae seleksi terarah
  4. Ternak yang mereka pelihara berkembangbiak dengan cara alami, tanpa ada pengawasan dan tanpa suatu catatan data-data umur,proses  kawin dan lain sebagainya.
  5. Belum ada suatu penelitian yang bisa memmberikan petunjuk jenis sapi mana yang bisa di gemukkan di daerah tropis.


C.    Penggemukan Modern
Pada umumnya para konsumen menghendaki daging sapi yang empuk, lezat dan warnanya menarik, yakni merah terang. Daging semacam itu adalah hasil penggemukan yang dilakukan dengan cara tertentu. Oleh karena itu semua usaha penggemukan sapi bermaksud untuk meningkatkan jumlah produksi daging dalam waktu singkat, dan dengan mutu yang lebih baik. Semua jenis sapi dapat digemukkan, tetapi untuk memperoleh yang tinggi haruslah dipilih jenis sapi yang pertumbuhannya lebih cepat dan efisien dalam penggunaan makaanan.
Dalam usaha penggemukan sapi secara modern, semua segi yang berkaitan dengan usaha tersebut benar-benar dilakukan menurut petunjuk atau pedoman ilmu pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan. Misalnya, pemilihan bibitnya, pemberian makanannya, dan sebagainya. Ada 3 cara yang bisa dilakukan dalam usaha penggemukan sapi secara modern, yaitu:
1.      Pasture Fattening
Pasturu Fattenig adalah sistem pennggemukan sapi-sapi di padang penggembalaan yang luas dengan syarat rumput yang ada dipadaang penggembalaan harus memiliki kualitas yang baik, yakni rumput yang bercampur dengan jenis leguminase, kemudian sapi yang digemukkan dengan sistem ini harus sudah berumur 2,5 tahun, sebab alat pencernaannya sudah sempurna.
2.   Dry Lot Fattening
Yakni sistem penggemukan yang mengutamakan pemberian makanan penguat pada sapi yang diigemukkan. Makanan penguat yang diberikan dalam bentuk ransum halus yang biasanya berasal dari biji-bijian yang telah digiling halus, misalnya jagung,gandum, bulgur, kedelai dan kacang-kacangan. Syarat sapi yang digemukkan dengan cara ini yaitu sapi yang berumua 1 tahun dan lama penggemukannya 4-6 bulan.

3.   Kombinasi antara pasture fattening dan Dryb Lot Fattening
Dalam sistem penggemukan ini, sapi-sapi diberikan makanan penguat dan pada waktu-waktu tertentu digembalakam di padang penggembalaan. Misalnya pada waktu kemarau panjang dimana sukar diperoleh makanan hijauan, sapi-sapi diberi makanan penguat yang berasal dari biji-bijian. Tetapi pada musim penghujan dimana mudah diperoleh makanan hijauan, sapi-sapi dilepas/digembalakan di padang penggembalaan.

III. KESIMPULAN
           Peranan daging sapi pada masyarakat umum saangat penting, kebutuhan daging sapi semakin hari semakin bertambah, begitu pula sapi kerja, peraanannya sangat dibutuhkan oleh petani. Maka dari itu perlu ada suatu cara untuk menangani masalah tersebut. Yaitu dengan cara perkembangbiakan sapi dengan baik., produksi sapi potong harus ditinggi. Untuk mengejar produksi ternak yang baik, para peternak harus meninggalkan cara-cara lama dan beralih ke cara-cara pemeliharaan moden. Selain itu makanan merupakan faktor penentu utama disamping faktor genetis dan menejemen.

IV. DAFTAR PUSTAKA
Basya, sori. 2008. Penggemukan Sapi (revisi). Penebar swadaya. Depok.
Rusfidra. 2007a. Paradigma Baru Pembangunan Peternakan; Membangunan Peternakan Bertumpu pada Ternak Lokal. Bogor: Cendekia Publishing House.